Heboh Disertasi Seks di Luar Nikah Halal, Begini Respon Ketum MUI Sumbar

Editor: Minangpos.com author photo
Minangpos - Padang :  Menyikapi pendapat Abdul Aziz Mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja yang mengajukan konsep Milk Al Yamin yang digagas Muhammad Syahrur dalam ujian terbuka disertasi berjudul Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital di UIN Sunan Kalijaga, Rabu (28/8/2019). Abdul Aziz mengemukakan pendapat yang menyatakan seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat.
Menyikapi itu Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa mengatakan bagaimana mengharapkan kejernihan fikir akan lahir dari rujukan yang keruh. Karena Syahrur yang menjadi ukurannya adalah orang yang ngotot menjadikan sunnah hanya sebagai dokumentasi sejarah. Karena Ia tak mengakui "kewahyuan" sunnah.
Syahrul akan menganggap pernyataan ulama hanyalah produk nalar yang tak punya sandaran wahyu bila tidak eksplisit disebut oleh AlQuran.
"Karena itu, tinggallah di tangannya teks Al-Quran yang menurutnya tak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi saat penggunaannya.
Tentu saja dengan demikian, hermeneutik adalah pisau bedah satu-satunya yang ia miliki untuk memahami Al-Quran," ujarnya.
"Jadi apapun istilah Quraniy, akan digugat oleh pengikut syahrur. Itu hanya menunggu waktu saja. Penyebabnya adalah pandangannya yang menjadikan Al-Quran menjadi terkurung oleh zaman dan situasi serta kondisi yang meliputi ketika turunnya," jelasnya.
Katanya, jadi pengertian milkul yamin sampai kepada seks bebas dengan batasan suka sama suka hanya akan bergulat dalam analisis makna lughawi tanpa merujuk istilah syari. "Kalaupun ada sunnah yang dia pergunakan, hanya akan diperalat sebagai justifikasi pembenaran dalam kedudukannya sebagai dokumentasi sejarah," tuturnya.
"Nah, itulah hulu yang sekarang bermuara kepada "penghalalan zina" tersebut. Institusi yang terkait, semestinya sudah harus diminta pertanggung jawaban atas fikiran yang merusak seperti ini," tuturnya.
Tambahnya, pemikiran bodoh yang menjatuhkan orang merdeka ke level budak hanya untuk melegalkan perbuatan terkutuk (zina) asal dengan keridhaan dan kalau perlu berimbalan materi semata tanpa pernikahan, adalah buah dari mencampakkan peran Rasulullah saw sebagai mubayyin (penjelas) maksud Allah Swt.
"Jadi, keberanian menghalalkan perzinaan bukanlah berhulu dari teori-teori istinbath hukum mereka yang memang telah rusak tapi hulunya adalah kerusakan aqidah," tandasnya.
Sebenarnya tidak ada celah sama sekali untuk menerapkan kebolehan bergaul di luar nikah di zaman tidak adanya mereka yang berstatus budak. Karena itu, nafsu untuk memberikan justifikasi atas hukum manusia yang telah berlaku serta syahwat yang menggebu, hanya dengan cara mengungkai pembatasan "milkul yamiin" sehingga meliputi manusia merdeka sekalipun.
"Mereka tentu akan berhenti pada kalimat-kalimat tanpa qayd dan bahkan membuang penerapan hukuman yang dilakukan di zaman Rasulullah saw seperti pada kasus Maiz. Semoga umat tidak terpedaya oleh fitnah ini karena akan merusak salah satu tujuan utama diturunkannya syariat Islam yaitu "menjaga kehormatan dan keturunan," imbuhnya.
Buya Gusrizal mengingatkan bahwa menghalalkan yang pasti keharamannya dalam syariat Islam seperti perzinaan, mengakibatkan orang itu keluar dari Islam atau MURTAD. Hasbunallaahu wa nimal wakiil. (Minangnews/*Sugandhi Siagian)
Share:
Komentar

Berita Terkini